Misi Kemanusiaan CTC: Pendampingan Psikologis untuk Keluarga dan Santri Korban Runtuhnya Mushalla Pondok Pesantren Al Khoziny
Buduran, 5 Oktober 2025 – Tim Relawan ICPA, yang dipimpin oleh Soffy Balgies, Psikolog dan Certified Trainer CTC, telah melaksanakan misi kemanusiaan tanggap bencana untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga dan santri korban runtuhnya mushalla Pondok Pesantren Al Khoziny pada 1 Oktober 2025. Aksi ini bertujuan untuk mendampingi keluarga yang berduka serta memberikan terapi bagi santri yang selamat, dengan fokus pada pemulihan psikologis di masa “golden time” pasca-kejadian yang sangat krusial.
Pendampingan psikologis dimulai pada hari ketiga setelah bencana, dengan memberikan konseling duka kepada keluarga korban. Konseling ini bertujuan untuk membantu keluarga mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka, serta menggali harapan mereka terhadap situasi yang terjadi. Harapan-harapan ini terbagi menjadi dua kategori: pertama, keluarga berharap anak mereka ditemukan dalam kondisi selamat, dan kedua, mereka berusaha menerima kenyataan jika anak mereka sudah tidak selamat.
Salah satu momen yang menggugah terjadi ketika ibu dari salah satu santri yang terlibat dalam kejadian tersebut mengalami shock dan pingsan. Setelah diberikan penanganan darurat selama lima menit, ibu tersebut sadar dan langsung mencari anaknya dengan menyebutkan namanya. Dalam situasi emosional tersebut, Soffy Balgies memberikan dukungan dengan membimbing ibu tersebut untuk mengekspresikan kesedihannya. “Ibu tidak apa-apa menangis, karena dengan menangis, perasaan sedih itu bisa keluar dan ibu mulai merasa lebih tenang,” ungkap Soffy.
Pada 3 Oktober 2025, tim relawan kembali ke lokasi posko keluarga korban di Buduran untuk melanjutkan sesi pendampingan. Selain memberikan konseling kepada keluarga korban, tim juga melanjutkan terapi bagi Arga, satu-satunya santri yang selamat dari runtuhnya mushalla. Arga menerima terapi CTC menggunakan teknik neck squeezing, yang berfokus pada perasaan dan ingatannya tentang upaya penyelamatan diri dan kesedihan mendalam saat mendengar teman-temannya meminta tolong dan melihat teman-temannya tertindih oleh beton mushalla yang runtuh.
Setelah menjalani terapi sekitar 10 menit, Arga merasa lebih tenang dan mulai menerima kenyataan. Ia memberikan pesan ikhlas kepada orang tua santri lainnya, “Allah lebih sayang kepada anak-anak kita daripada kita menyayangi anak-anak kita sendiri.” Sebagai bagian dari terapi, Soffy Balgies mengajarkan Arga teknik clapping sebagai metode self-healing yang bisa digunakan untuk mengatasi perasaan cemas atau mengenang kejadian traumatis tersebut.
Tak hanya itu, para santri senior kelas 12 yang tidak terlibat dalam kecelakaan tersebut, namun turut merasakan kehilangan, juga mendapat pendampingan psikologis. Terapis CTC membantu mereka untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka melalui narasi yang mereka ceritakan sendiri, sebagai upaya untuk memproses kedukaan dan mengurangi beban emosional.
Misi kemanusiaan ini membuktikan bahwa pendampingan psikologis pasca-bencana sangat penting dalam membantu individu yang terdampak trauma, serta memberikan ruang untuk proses healing yang lebih cepat. Teknik-teknik yang digunakan oleh tim relawan CTC, seperti neck squeezing dan clapping, terbukti efektif dalam membantu korban dan keluarga untuk memulihkan perasaan mereka pasca tragedi.
Tentang CTC
CTC (Certified Trainer CTC) adalah organisasi yang berfokus pada pengembangan kapasitas individu dan komunitas melalui teknik-teknik terapi yang berbasis pada pendekatan psikologis yang teruji. CTC berkomitmen untuk mendukung proses pemulihan pasca-bencana dan mendampingi mereka yang membutuhkan bantuan emosional untuk bangkit kembali.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Soffy Balgies
Psikolog & Certified Trainer CTC
WA: 082230862122

